Hadapi Pandemi, PADI dan SSI Dorong Indonesia Garap Pasar Selam Domestik

    Direktur Wilayah PADI Paul Tosh Tanner, PR Consultant Lolo Sianipar, dan para pelaku usaha selam mancanegara berfoto bersama dalam acara seminar hybrid berjudul Indonesia Dive Tourism Market Updates 2020 yang digelar Kemenparekraf di Denpasar, Bali, Senin (12/10/2020).

     

    Pandemi COVID-19 telah menghambat pergerakan wisatawan mancanegara ke Indonesia sejak awal 2020. Akibatnya, industri wisata selam sangat sepi pengunjung sampai bisa dikatakan mati suri.

    Menurut survei Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI), pada April 2020 sudah ada sekitar 66% responden industri selam yang berhenti beroperasi. Sekitar 93% responden menyatakan sudah tidak punya pemasukan, dan sekitar 44% responden pekerja wisata selam dirumahkan tanpa upah (unpaid leave).

    Mirisnya lagi, krisis tersebut masih terus berlanjut hingga sekarang. Hal ini diungkapkan oleh Dika, seorang instruktur selam peserta acara Indonesia Dive Tourism Market Updates 2020 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Denpasar, Bali, Senin (12/10/2020).

    “Semua pekerja di Bali, khususnya penyelam profesional, sudah kehilangan pekerjaan,” tegas Dika, Senin (12/10/2020).

     

    Fokus ke Pasar Domestik

    Dampak keras pandemi COVID-19 terhadap industri wisata selam juga dirasakan oleh Paul Tosh Tanner selaku Direktur Wilayah Professional Association of Diving Instructor (PADI).

    “Selama periode 2005 sampai 2019 PADI mengalami pertumbuhan progresif dalam memasarkan wisata selam Indonesia ke mancanegara. Dari tahun ke tahun bisnis kami terus tumbuh karena Indonesia punya destinasi selam kelas dunia, dan PADI punya standar pelayanan kelas dunia. Tapi di tahun 2020, tidak ada pertumbuhan sama sekali,” ujar Paul dalam acara Indonesia Dive Tourism Market Updates 2020 di Denpasar, Bali, Senin (12/10/2020).

    Menurut Paul, pertumbuhan bisnis selam dan sertifikasi PADI di Indonesia mandek karena negara-negara pasar utamanya, yakni Cina, Australia, Inggris, dan Jerman memberlakukan pembatasan perjalanan (travel restriction).

    Ia pun menilai di tengah situasi ini industri wisata selam Indonesia tak bisa lagi menggantungkan diri pada pasar mancanegara. Pasalnya, belum ada satupun pihak yang bisa memperkirakan kapan pandemi akan berakhir, dan kapan perjalanan internasional akan dibuka kembali.

    “Kita tidak bisa mengatur kapan negara-negara akan membuka perbatasan. Kita tidak bisa mengatur kapan Australia akan membolehkan lagi perjalanan luar negeri. Kita tidak punya kontrol atas itu. Satu-satunya kontrol yang kita punya adalah pasar domestik,” jelas Paul.

    “Upayakan sekuat mungkin menggarap pasar domestik. Indonesia punya Pulau Komodo, punya Bali yang terbuka untuk wisatawan domestik. Di area-area itulah kita harus fokus menarik penyelam Indonesia. Jika kita terus menunggu negara-negara lain membuka perbatasan, itu perbuatan yang sia-sia saja,” tegas Paul.

    Pandangan serupa juga disampaikan oleh John Shepherd, Manajer Pemasaran Scuba School International (SSI) Indonesia.

    “Mempertanyakan kapan negara-negara lain akan membuka perbatasan, itu di luar kendali kita. Kalau kita lihat berita-berita, belakangan ini situasi pandemi tidak kunjung membaik, entah itu di Eropa ataupun di Amerika Serikat. Artinya kita harus benar-benar fokus ke pasar domestik,” ujar John dalam acara yang sama.

    “Kita harus mencari cara agar penyelam profesional bisa tetap bekerja, dan satu-satunya cara adalah dengan menggarap pasar domestik. Hal ini harus kita lakukan sampai perjalanan internasional dibuka lagi,” lanjutnya.

    John pun mendorong komunitas penyelam Indonesia agar melakukan dive trip ke destinasi-destinasi dalam negeri dengan menerapkan protokol kesehatan.

    “Kita perlu membantu agar dive center tetap buka, agar para penyelam profesional bisa tetap bekerja,” pungkasnya.

     

    Menggerakkan Komunitas Penyelam Lewat Program Pemerintah

    Senada dengan pandangan perwakilan PADI dan SSI, Kemenparekraf kini juga sedang menyusun strategi untuk menggerakan pasar wisata selam domestik sembari membuat simulasi penerapan panduan CHSE selam.

    Hal ini disampaikan Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf Rizky Handayani dalam acara Sosialisasi Panduan CHSE Wisata Selam yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, Senin (12/10/2020).

    “Terus terang banyak diver-diver di Jakarta sudah mulai tidak sabar buat diving. Nanti kita mungkin ngobrol dengan teman-teman di Jakarta, Surabaya, Bandung, bagaimana membawa mereka ke Bali. Saya sudah bikin program golf dan program sepeda di Bali. Program yang diving belum ada, memang. Mungkin nanti kita bisa bicarakan kemudian,” pungkasnya.

    <span class="icon-user"></span>

    Adi Ahdiat

    Facebook comments

    Website comments