Kemenparekraf Dorong Kepulauan Seribu Jadi Etalase CHSE Wisata Selam Indonesia

    Bimbingan Teknis, Monitoring, dan Evaluasi CHSE Wisata Bahari (Wisata Selam) di Aula Kantor Bupati Kep. Seribu, Pulau Pramuka, Rabu (8/9/2021). (Foto: JIA Communications/Aprizal Nur)

     

    Jakarta, 8 September 2021  – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar kegiatan ‘Bimbingan Teknis, Monitoring, dan Evaluasi CHSE Wisata Bahari (Wisata Selam)’ di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada Rabu (8/9/2021).

    Kegiatan ini digelar untuk mensosialisasikan, mengedukasi, serta memastikan agar pelaku usaha wisata bahari, khususnya pelaku usaha wisata selam di Kepulauan Seribu mampu menerapkan pedoman Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) dengan baik.

    “Kepulauan Seribu ini sangat dekat dengan Jakarta yang merupakan salah satu gerbang masuk utama wisatawan mancanegara. Jakarta juga punya potensi wisatawan nusantara paling besar. Jadi dengan kegiatan bimbingan teknis CHSE ini mudah-mudahan kita bisa mendorong Kepulauan Seribu menjadi etalase depan wisata bahari dan wisata selam Indonesia,” jelas Direktur Promosi Wisata Minat Khusus Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan.

    Hal ini mendapat sambutan baik dari Wakil Bupati Kepulauan Seribu Fadjar Churniawan. Ia menilai bimbingan CHSE sangat diperlukan supaya pelaku usaha wisata Kepulauan Seribu siap menerima kunjungan wisatawan dengan aman jika nanti PPKM sudah dilonggarkan.

    “Sebagai destinasi wisata bertaraf nasional dan internasional, Kepulauan Seribu harus memenuhi standar CHSE, ini adalah modal utama bagi industri pariwisata sekarang,” jelas Fadjar.

    Kegiatan ‘Bimbingan Teknis, Monitoring, dan Evaluasi CHSE Wisata Bahari (Wisata Selam)’ diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari perwakilan instansi pemerintah daerah, pelaku usaha wisata selam, serta pelaku usaha terkait wisata bahari di Kep. Seribu.

    Dalam kegiatan ini para peserta mendapat materi bimbingan teknis CHSE, kemudian diajak melakukan simulasi atau uji coba langsung penerapan CHSE Wisata Selam di dua dive center Pulau Pramuka, yaitu Family Divers dan Mazu Divers.

    Adapun narasumber pemateri dalam kegiatan ini adalah Ketua Tim Penyusun CHSE Wisata Selam Abi Carnadie dan Tim Auditor CHSE Wisata Selam Arief Yudo Wibowo.

    “Industri wisata selam sudah punya panduan CHSE tersendiri yang dirilis Kemenparekraf sejak tahun 2020, berisi panduan untuk pekerja, wisatawan, protokol beraktivitas di mobil, dermaga, kapal, sampai panduan disinfeksi peralatan selam, dan penanganan kasus darurat. Dalam penyusunannya kita juga bekerja sama dengan organisasi keselamatan selam internasional Divers Alert Network,” jelas Abi.

    Abi Carnadie juga menegaskan bahwa aktivitas selam atau scuba diving pada dasarnya merupakan kegiatan wisata olahraga yang rendah risiko penularan virus.

    “Sampai saat ini belum ada data yang menyatakan bahwa seseorang bisa tertular Covid-19 di dalam air. Dan saat penyelam memakai alat diving seperti masker diving, wetsuit, dan regulator, itu dia terproteksi mirip seperti memakai APD (Alat Pelindung Diri). Jadi bisa dibilang potensi penularan Covid-19 dalam aktivitas selam itu sangat minim, selama dilakukan sesuai protokol,” tegasnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Tim Auditor CHSE Wisata Selam Arief Yudo Wibowo.

    “Kegiatan selam itu sudah sangat terpola dengan standard operating procedure (SOP) bahkan sejak sebelum adanya pandemi. Jadi, prosedur seperti CHSE sebenarnya cukup mudah diterapkan oleh para pelaku usaha wisata selam yang sudah sangat terbiasa dengan protokol keselamatan yang ketat,” pungkas Arief.

    <span class="icon-user"></span>

    Adi Ahdiat

    Facebook comments

    Website comments