Wisata Selam Indonesia Siap Terima Tamu dengan Terapkan Panduan CHSE

    Seorang pemandu selam memberikan pre-dive briefing untuk wisatawan dengan memakai masker dan menerapkan jaga jarak di Laguna Gili Dive Resort, Lombok. Meski masih sepi pengunjung, sejumlah tempat usaha wisata selam di Lombok sudah kembali beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan. (Foto: Laguna Gili Dive Resort)

     

    Setelah tutup berbulan-bulan akibat pandemi COVID-19, kini pelaku usaha wisata selam di sejumlah destinasi unggulan Indonesia menyatakan sudah siap kembali beroperasi dan siap menerima tamu dengan menerapkan protokol kesehatan.

    Kesiapan itu salah satunya dinyatakan oleh I Wayan Tambir, pengelola Puri Madha Dive Resort Bali, dalam acara webinar Sosialisasi Panduan Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) Usaha Wisata Selam & Dive Tourism Market Updates Jakarta yang digelar Kemenparekraf RI, Selasa (3/11/2020).

    “Sebenarnya para pelaku usaha wisata selam di Bali sudah siap sekali. Kita sudah mempersiapkan diri dan segala sesuatunya. Apabila nanti ada wisatawan yang mau datang, semua pelaku pariwisata Bali sudah mengikuti protokol kesehatan sesuai dengan arahan Pemerintah Provinsi Bali,” ujar I Wayan Tambir, Selasa (3/11/2020).

    I Wayan Tambir menyatakan pelaku usaha wisata selam Bali umumnya sudah menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan melakukan disinfeksi rutin di tempat usahanya.

    “Kami pelaku usaha di Tulamben juga sudah sepakat untuk membatasi menerima tamu dalam jumlah besar, ini untuk mengontrol social distancing,” tambahnya.

     

    Bukan Hanya Bali, Labuan Bajo dan Manado Juga Siap

    Kesiapan serupa dinyatakan Aprita Primayudha, Ketua Harian Dewan Pengurus Cabang Gabungan Usaha Wisata Tirta dan Bahari (DPC Gahawisri) Labuan Bajo, yang juga menjadi pembicara dalam acara Sosialisasi Panduan CHSE Usaha Wisata Selam & Dive Tourism Market Updates Jakarta.

    Menurut survei DPC Gahawisri Labuan Bajo, saat ini sudah banyak usaha wisata bahari Labuan Bajo yang kembali beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan.

    “Sekitar 20% anggota kami menyatakan masih menunggu sampai 2021 untuk buka kembali. Tapi, sebagian besarnya yaitu 80% sekarang sudah buka lagi, walaupun tamu yang datang masih sedikit,” jelas Aprita Primayudha, Selasa (3/11/2020).

    “Kami sudah membuat video simulasi protokol new normal. Kami juga sudah membuat poster protokol new normal yang bisa dipasang oleh anggota-anggota (Gahawisri) di tempat usaha atau kapal-kapalnya,” lanjut dia.

    Menurut Aprita Primayudha, pelaku usaha wisata selam Labuan Bajo sudah mulai menerapkan protokol kesehatan sejak Juli 2020 berdasarkan arahan dari Divers Alert Network (DAN) serta agensi selam PADI dan SSI.  Ia pun menilai penerapan protokol kesehatan itu akan semakin baik dengan adanya Panduan CHSE Usaha Wisata Selam yang diterbitkan Kemenparekraf RI.

    “Kami berterima kasih bahwa akhirnya ada protokol kesehatan (wisata selam) yang ditetapkan secara nasional. Karena, bila tidak ada panduan seperti ini, mungkin pelaku usaha akan sulit memilih mau menerapkan protokol yang mana,” ujar Aprita Primayudha.

    Di kesempatan sama, John Rahasia selaku pengelola Tagaroa Dive Center Manado menyatakan bahwa pihaknya juga sudah menerapkan prosedur CHSE sesuai arahan pemerintah.

    “Kita sudah menerapkan prosedur CHSE untuk pekerja (wisata selam). Ini hasil kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, jadi para pekerja digratiskan untuk rapid test secara berkala. Mulai dari pekerja datang, kita sudah lakukan pengukuran suhu, hand sanitizer, dan mewajibkan pakai masker,” terang John, Selasa (3/11/2020).

    “Kami melakukan prosedur CHSE persiapan peralatan selam mulai dari saat pengisian tabung, juga disinfeksi peralatan sebelum dan sesudah aktivitas penyelaman. Kita lakukan sesuai buku panduan Kemenparekraf yang sudah disosialisasikan di Manado beberapa waktu lalu,” lanjutnya.

    Ke depannya, Kemenparekraf RI akan melakukan program evaluasi dan sertifikasi penerapan CHSE untuk pelaku usaha wisata selam. Dengan adanya sertifikasi ini, diharapkan industri wisata selam Indonesia bisa semakin meningkatkan standar pelayanannya, sekaligus meningkatkan kepercayaan dari wisatawan selam domestik dan mancanegara.

     

    Kampanye Penerapan CHSE Lewat Media Sosial

    Untuk mendukung pemulihan industri selam dari krisis pandemi COVID-19, penerapan CHSE juga perlu dikampanyekan melalui media sosial.

    Hal ini dijelaskan Arief Yudo Wibowo, Managing Editor Scuba Diver Australasia Indonesia yang turut hadir sebagai pembicara dalam acara Sosialisasi Panduan CHSE Usaha Wisata Selam & Dive Tourism Market Updates Jakarta.

    “Media sosial di handphone kita itu alat paling utama. Kita bisa posting foto-foto kita saat menerapkan CHSE, kita posting di Instagram, kita buat video tentang dive operator yang melakukan itu (prosedur CHSE), itu bisa digunakan sebagai sarana promosi,” ujar Arief Yudo Wibowo, Selasa (3/11/2020).

    “Jadi kita berusaha meningkatkan minat wisatawan, mempromosikan atraksi wisata dan penerapan CHSE ke dunia melalui media sosial,” pungkasnya.

    <span class="icon-user"></span>

    Adi Ahdiat

    Facebook comments

    Website comments